RUBRIK BEKASI.COM, Cikarang Selatan – Memasuki awal 2026, LippoLand melalui kawasan Lippo Cikarang Cosmopolis (LCC) memperluas arah program Corporate Social Responsibility (CSR) dengan pendekatan yang lebih strategis dan berorientasi pada dampak jangka panjang.
Program sosial yang sebelumnya bersifat pelengkap, kini diintegrasikan sebagai bagian dari strategi pembangunan kawasan.
Deputy COO Lippo Cikarang Cosmopolis, Lukas Budi Setiawan, mengatakan perubahan pendekatan ini menjadi langkah penting untuk memastikan keberlanjutan program.
“CSR bukan lagi sekadar aktivitas sosial tahunan, tetapi kami dorong menjadi bagian dari strategi bisnis yang mampu menciptakan nilai bersama,” ujar Lukas, Senin (20/4/2026).
Ia menjelaskan, seluruh program dirancang dalam kerangka “Lippo untuk Indonesia PASTI” yang mengedepankan lima pilar utama.
“Melalui lima pilar ini, kami memastikan setiap kegiatan memiliki arah yang jelas, terukur, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.
Pada Januari 2026, LCC memulai rangkaian program dengan merespons bencana banjir di Kecamatan Sukatani. Bantuan logistik langsung disalurkan kepada warga terdampak.
“Kami memahami bahwa pada situasi darurat, kecepatan dan ketepatan bantuan sangat dibutuhkan. Itu yang menjadi prioritas kami,” ungkapnya.
Memasuki Februari, program difokuskan pada penguatan aspek sosial dan keagamaan melalui penyaluran perlengkapan ibadah ke sejumlah masjid.
“Kami ingin mendukung aktivitas masyarakat secara menyeluruh, termasuk dari sisi spiritual. Ini bagian dari membangun keseimbangan sosial,” jelas Lukas.
Pada Maret, momentum Ramadan dimanfaatkan untuk mempererat hubungan dengan masyarakat melalui kegiatan buka puasa bersama serta santunan kepada lebih dari 200 anak yatim.
“Interaksi langsung seperti ini penting untuk membangun kedekatan dan rasa kebersamaan antara perusahaan dan masyarakat,” ujarnya.
Memasuki April, LCC mulai mengarahkan program pada isu kesehatan masyarakat, khususnya penanganan stunting. Pelatihan diberikan kepada sekitar 100 kader Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Cibatu.
“Kami melihat kader Posyandu sebagai ujung tombak. Ketika kapasitas mereka meningkat, dampaknya akan langsung terasa di masyarakat,” kata Lukas.
Dalam pelatihan tersebut, dr. Bernas Napitupulu, Sp.OG dari RS Metro Hospitals Cikarang menyampaikan pentingnya pendekatan komprehensif dalam penanganan stunting.
“Stunting tidak hanya disebabkan oleh kurangnya asupan gizi, tetapi juga faktor edukasi, kesehatan ibu, dan pola pengasuhan anak,” jelasnya.
Ia menambahkan, intervensi sejak dini menjadi kunci utama dalam pencegahan.
“Penanganan harus dimulai sejak masa kehamilan. Pemenuhan gizi ibu dan pencegahan anemia sangat menentukan kondisi anak ke depan,” ujarnya.
Lukas menegaskan bahwa seluruh program akan terus dikembangkan secara berkelanjutan.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap program tidak berhenti di satu titik, tetapi terus berkembang dan memberikan dampak jangka panjang,” tegasnya.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan kawasan tidak hanya diukur dari sisi infrastruktur, tetapi juga dari kualitas hidup masyarakat.
“Bagi kami, pertumbuhan kawasan harus sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya,” tandasnya. (RED)





